Misteri Dibalik Kematian dr. Sunardi, Terduga Teroris di Solo

Andalus.or.id – dr. Sunardi, seorang dokter yang dikenal baik diberitakan meninggal ditembak oleh tim Densus 88 Mabes Polri.  Menurut media pemberitaan peristiwa penembakan itu berlangsung pada hari rabu malam sekitar pukul 21.00 WIB, saat itu sang dokter dalam perjalanan pulang dari tempat praktiknya menuju rumahnya. Begitu berita yang saya baca keesokan harinya.

Secara pribadi, kalau dikatakan kenal baik sih tidak. Tapi kenal secara umum sih ya. Dulu tahun 2000-an pernah ketemu, ketika itu saya  sebagai pasiennya.  Pernah ketemu beberapa kali di acara-acara sosial pengobatan gratis. dr. Sunardi memang dikenal oleh masyarakat Solo  -Sukoharjo khususnya- sebagai dokter yang merakyat dan berjiwa sosial tinggi. Dokter yang mengabdikan diri dan ilmunya untuk melayani masyarakat dalam arti sesungguhnya. Asli. Tanpa pamrih materi apa pun. Tanpa mengenal sekat agama, suku dan bangsa, apalagi cuma beda bendera organisasi.

Saya sendiri semasa nyantri dulu, pernah menjadi pasiennya. Karena memang tempat saya nyantri berada tidak jauh dari tempat praktiknya. Saya datang ke tempat klinik gratis yang beliau Kelola di komplek sebuah masjid di bilangan Pasar Kliwon, pinggir kali Bengawan Solo. Meski pun klinik ini berada di komplek masjid, konon yang datang berobat ke klinik ini tidak hanya masyarakat muslim saja, tapi juga dari kalangan non muslim.

Makanya saya heran, orang begini masih saja dituduh sebagai teroris? Masa ya teroris mau melayani pasien non muslim, GRATIS TIS  pula. Atau bahkan bisa saja dalam rentang waktu puluhan tahun praktiknya, ada keluarga dari anggota polisi yang ditolongnya.

Setelah lulus pesantren, saya jadi guru iqra’ di kampung kampung. Suatu waktu ada sebuah yayasan dekat tempat saya tinggal mengadakan program layanan pengobatan gratis untuk masyarakat. Pihak yayasan menghubungi dr. Sunardi agar beliau dan tim medisnya bersedia menjadi mitra dengan yayasan tersebut untuk menyukseskan programnya. Pihak yayasan sosial itu hanya diminta menyediakan tempat dan mempublish program, selebihnya tenaga medis dan peralatannya seluruhnya di handle oleh sang dokter dan timnya. Seingat saya program semisal sempat berlangsung beberapa kali. Apakah orang seperti ini pantas jadi teroris?!

Memang, dr. Sunardi dikenal oleh masyarakat luas, utamanya para aktivis sebagai seorang aktivis kemanusiaan yang religius. Karena basicnya adalah seorang dokter, maka aktivitas beliau pun tidak jauh-jauh dari dunia medis. Dari beberapa portal pemberitaan yang saya telusuri, dr. Sunardi bersama rekan-tekan tenaga medis disebut-sebut sebagai pendiri sebuah lembaga sosial kemanusiaan yang Bernama Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI). Mungkin tuduhan teroris itu bermula dari sini. HASI disebut sebut terkait (atau dikaitkan?) jaringan teroris. Apa dasar tuduhannya? Karena oraganisasi ini sering terjun ke wilayah wilayah konflik.

Baca Juga: Jenazah Dokter Terduga Teroris di Solo, Tiba di Rumah Duka

Mestinya para relawan medis semacam ini, terjun terjun ke wilayah-wilayah konflik rasanya bukan hal yang aneh y? Apalagi dikait-kaitkan dengan kegiatan terror. Terus terror yang macam apa? Yang mana? Konon dr. Sunardi dikaitkan dengan jaringan teroris karena pernah terjun ke Ambon ketika terjadi konflik dahulu, bahkan HASI yang dipimpinnya konon juga terjun ke wilayah-wilayah konflik di luar negeri semisal Afghanistan, Palestina dan Suriah hingga Rohingya. Pertanyaannya loh bukankah itu wajar semata? Wilayah-wilayah rawan konflik itu kan wilayah yang rawan segala galanya, termasuk rawan penyakit, bukankah mereka sebagai korban konflik menghajatkan layanan medis? Bukankah para pengungsi sudah selayaknya dibantu? Bukankah kegiatan amal semacam ini umum dijalankan oleh lembaga kemanusiaan apa pun nama dan latar belakang agamanya?  Lalu apanya yang salah? Entah lah.

Dalam sebuah pengakuan dari rekan sejawat dr. Sunardi yang saya baca di jejaring sosial, disebutkan bahwa dr. Sunardi dan timnya juga selalu hadir melayani kebutuhan medis para korban bencana alam di berbagai daerah di negeri ini. Apa iya sich, orang seperti ini adalah teroris, lalu didor tanpa melalui proses pengadilan?

Ah, entahlah. Operasi perang melawan teroris memang menyimpan sisi gelap yang tidak tembus pandang. Peristiwa meninggalnya dr. Sunardi ini contoh paling anyar. Menurut versi kepolisian, dr. Sunardi ditembak karena melakukan perlawanan.

“Melawan? Melawan bagaimana? Pakai apa? Bukankah sang dokter sudah beberapa tahun lamanya berjalan harus menggunakan bantuan tongkat? Lalu melawannya bagaimana?”

Konon melawan dengan menabrakkan mobilnya ke mobil petugas yang menghentikannya. Begitu versi polisi. Apakah benar demikian? Hanya Allah kemudian polisi yang berada di lapangan yang mengetahui persis kejadiannya, karena tidak ada saksi mata yang bisa dimintai keterangan lebih lengkap.

Tapi, apakah ada kemungkinan lain? Namanya juga ‘kemungkinan’ ya mungkin saja. Mungkin, bisa saja dr. Sunardi yang sedang menyetir kaget dan panik karena mobilnya secara tiba tiba dihentikan oleh gerobolan orang-orang yang tidak dikenalnya. Malam hari pula. Kan bisa saja dikira gerombolan begal. Karena panik mungkin saja secara tidak sengaja sang dokter menabrak kendaraan yang mengentikannya yang ternyata adalah petugas. Mungkin kan?

Atau malah karena disergap sang dokter lalu kaget dan mengalami kecelakan, menabrak pohon, atau pembatas jalan, atau apa misalnya. Mungkin? Ya mungkin aja.

Atau malah mobil dr. Sunardi sebenarnya sudah berhenti lalu ditabrak agar tidak bisa melarikan diri. Mungkin? Ya mungkin juga. Namanya juga kemungkinan. Bukankah di negeri ini semua sangat mungkin terjadi? Para koruptor kelas kakap yang mendapatkan bonus potongan masa tahanan 50%, bisa jalan jalan ke Bali, bisa keluar masuk luar negeri dengan santai, tersangka korupsi seperti Harun Masuki bisa menghilang ditelan bumi. Pokoknya semua mungkin saja terjadi.

Namun tetap saja ini hanya sebatas kemungkinan. Kita tunggu saja pengadilan akhirat kelak. Ketika semua manusia tidak lagi punya daya untuk berdusta dan menyembunyikan kejahatannya. [Ibnu S]

Tentang Penulis

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button